Banner

Meski AdaCamp Tiada Lagi

Beberapa hari yang lalu sebuah kabar mengejutkan tiba di inbox email saya. Sepucuk email yang menyatakan bahwa AdaCamp, sebuah acara yang diselenggarakan untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam teknologi terbuka dan kebudayaan (open technology and culture), tidak akan diselenggarakan lagi, setelah selama tiga tahun (2012-2014) diselenggarakan sekurangnya dua kali berturut-turut.

Mozillians di AdaCamp Berlin, 2014

AdaCamp dijalankan oleh Ada Initiative, sebuah organisasi perempuan yang didirikan untuk mendukung perempuan yang berkecimpung dalam teknologi yang terbuka dan kebudayaan. Selain menyelenggarakan metode konferensi (yang berbeda dengan konferensi pada umumnya) untuk memastikan keterlibatan perempuan dalam suasana sensitif gender dan bebas pelecehan, organisasi ini juga membuat berbagai workshop yang membantu laki-laki mendukung perempuan dalam teknologi yang terbuka serta berbagai kegiatan advokasi lainnya yang terkait.

Bagi saya, kabar ini terasa menyedihkan karena saya adalah salah satu alumni AdaCamp. Saya menjadi peserta dalam AdaCamp di Berlin, tanggal 11-12 Oktober 2014. Sepanjang pengetahuan saya, saya adalah satu-satunya peserta dari Indonesia yang pernah mengikuti AdaCamp sejak pertama kali diselenggarakan.

Post-its di AdaCamp

Jumlah dan keterlibatan perempuan dalam teknologi masih sangat sedikit, dan seringkali, mereka yang berada di dalam industri ini merasa tidak mendapatkan tempat dan posisi yang setara. Ada Camp yang saya ikuti menjawab sebagian tantangan ini, dengan memberdayakan perempuan. Misalnya sesi pertama yang kami ikuti adalah: Impostor Syndrome Workshop.

Dalam dunia di mana mayoritas laki-laki berperan, perempuan seringkali mengalami perasaan yang kurang percaya diri atau kurang kompetitif dibandingkan laki-laki. Hal ini dikarenakan perempuan yang penuh inisiatif, percaya diri dan lebih agresif dalam menentukan tindakan kerap dilabeli berbagai julukan yang menyesatkan. Pernah mendengar istilah "bossy" atau "power bitch"?
Workshop ini mengajak peserta untuk mendeteksi impostor syndrome dan mengenali hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegahnya sebelum terjadi.

Pada dua sesi berikutnya, kegiatan kami difokuskan pada diskusi tentang persoalan dan hambatan yang dihadapi perempuan dalam dunia teknologi yang terbuka dan kebudayaan; dilanjutkan dengan diskusi mengenai solusi yang dap at dijalankan dari berbagai komunitas yang terlibat dalam acara ini. Satu hal yang perlu ditekankan, tiap-tiap peserta diajak untuk menemukan cara-cara baru yang lebih kreatif untuk menangani berbagai permasalahan perempuan di dunia teknologi.

Peserta AdaCamp Berlin: Oktober 2014

Hari berikutnya, sesi-sesi dijalankan dengan perencanaan langsung di lapangan. Setiap peserta diberikan serangkaian topik yang dapat dipilih untuk didiskusikan dalam kelompok-kelompok kecil. Tema-tema yang diberikan bervariasi dan sangat menarik; misalnya soal privasi, pendekatan pada feminisme yang berbeda di setiap budaya dan komunitas, cara berkontribusi pada proyek-proyek yang terbuka dalam kerangka kerja perempuan, menciptakan ruang yang aman dan kegiatan yang inklusif, budaya penggemar (fan culture) di web, sampai dengan sesi yang memberikan pemahaman mengenai mengapa kemanan (di web) sangatlah penting bagi perempuan.

Pengalaman yang saya dapatkan di AdaCamp sangatlah berharga, dan agak sedih juga membayangkan bahwa kegiatan ini tidak akan ada lagi di masa depan. Untunglah, AdaInitiatives berniat membuka semua materi pembelajaran dan toolkit yang selama ini mereka gunakan. Jadi berbagai komunitas perempuan di seluruh dunia nantinya akan dapat membuat acara-acara serupa menggunakan materi dan toolkit tersebut.